Kapuasinsight.com, WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri menyiapkan 1.045 tangki air bersih guna penanganan kedaruratan bencana kekeringan selama musim kemarau 2026. Pada Selasa (4/8/2026) siang, setidaknya 10 tangki air bersih mulai disalurkan ke Desa Tlogosari, Kecamatan Giritontro, yang mulai mengalami krisis air akibat kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menjelaskan alokasi 1.045 tangki air tersebut didanai APBD senilai Rp300 juta. Masing-masing tangki memiliki kapasitas 5.000 liter, sehingga total air bersih yang disiapkan mencapai 5,22 juta liter.
“Dari APBD Penetapan ini kami menyiapkan anggaran Rp300 juta. Anggaran itu diwujudkan dalam bentuk tangki air siap dropping, kurang lebih menghasilkan 1.045 tangki atau sekitar 5,22 juta liter air bersih yang siap didistribusikan secara bertahap,” kata Fuad kepada Espos, Selasa siang.
Fuad menambahkan apabila alokasi 1.045 tangki tersebut nantinya habis sebelum musim kemarau berakhir, Pemkab Wonogiri siap membuka opsi penganggaran tambahan dari pos Belanja Tidak Terduga (BTT) serta mengarahkan dukungan bantuan corporate social responsibility (CSR) dari BUMD maupun swasta.
Berdasarkan pemetaan tahunan BPBD, terdapat 14 kecamatan di Wonogiri yang berpotensi terdampak kekeringan saat kemarau. Namun hingga awal Agustus 2026, tercatat baru enam kecamatan dengan 19 desa yang telah resmi melaporkan krisis air dan mengajukan permohonan bantuan air bersih. “Enam kecamatan itu di antaranya Giritontro, Eromoko, Pracimantoro, Karangtengah, dan Nguntoronadi,” jelasnya.
Fuad juga menegaskan penyaluran air menggunakan tangki memang sebatas penanganan darurat. Solusi jangka panjang permanen terus digenjot oleh Pemkab Wonogiri melalui kolaborasi Dinas Pekerjaan Umum (DPU), PDAM, dan Bappeda.
Optimalisasi SPAM Pidekso
Beberapa kawasan selatan Wonogiri yang dulunya menjadi langganan krisis air, seperti Paranggupito, sebagian Pracimantoro, dan Giriwoyo, saat ini secara bertahap telah terjangkau perluasan jaringan pipa PDAM. Selain itu, pengerjaan dan optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pidekso terus berjalan guna memperluas jangkauan sambungan rumah tangga di Kecamatan Giritontro dan sekitarnya.
“Yang saat ini sudah dialiri jaringan PDAM seperti Paranggupito, sebagian Pracimantoro, dan beberapa kecamatan lainnya juga dalam proses pemasangan jaringan tersebut. Selama proses ini juga di saat musim kemarau kami mengimbau masyarakat untuk hemat air, gunakan untuk kebutuhan-kebutuhan utama terlebih dahulu. Bagi warga yang wilayahnya mulai kekeringan silakan laporan ke desa atau kecamatan agar bisa kami salurkan bantuan air bersih ini,” kata dia.
Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, yang turut hadir dalam penyaluran air bersih tersebut, memastikan distribusi bantuan air bersih akan terus berjalan menyasar seluruh wilayah terdampak. Ia meminta para kepala desa dan perangkat daerah untuk aktif berkoordinasi dengan BPBD apabila ditemukan kawasan pemukiman yang mulai mengalami kehabisan pasokan air.
“Segera melaporkan jika ditemui adanya wilayah yang mulai mengalami kekeringan agar distribusi bila dilakukan dan masyarakat tidak terganggu aktivitasnya karena kekurangan air bersih ini,” kata dia.
Sebagai informasi, berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah belum lama ini, wilayah Kabupaten Wonogiri masuk dalam daftar daerah dengan curah hujan di bawah normal atau kisaran 0-20 mm.
Tak hanya itu, dalam rilis yang sama juga disebutkan sebagian wilayah, termasuk Kecamatan Jatisrono, juga akan mengalami hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Jawa Tengah, yakni selama 88 hari. Sementara untuk kecamatan lainnya masuk dalam daftar HTH lebih dari 60 hari yang berpotensi menyebabkan kekeringan ekstrem.

Leave a Reply