Sulit Dijangkau, Pemkab Ngawi Ajukan Water Bombing Atasi Karhutla Gunung Lawu

Sulit Dijangkau, Pemkab Ngawi Ajukan Water Bombing Atasi Karhutla Gunung Lawu
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, (tengah) saat memberikan keterangan usai meninjau posko penanganan Karhutla Gunung Lawu di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Kamis (17/9/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Kapuasinsight.com, NGAWI – Kebakaran hutan lindung di petak 39-2 RPH Manyol dan petak 41-1 RPH Campurejo, BKPH Lawu Utara, KPH Lawu Ds, kawasan Gunung Anakan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, belum padam dan berpotensi merembet ke hutan produksi serta lahan pertanian warga. Kini, Pemkab Ngawi mengajukan bantuan helikopter untuk water bombing guna menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Hingga hari Rabu (16/9/2026), Perhutani mencatat sedikitnya kawasan hutan lindung tersebut telah terbakar seluas 13 hektare dan diprediksi terus bertambah seiring api yang kian meluas.

Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, mengatakan tim gabungan selama tiga hari terakhir telah bergerak membuat sekat bakar atau ilaran hingga Pos 3 jalur pendakian Gunung Lawu via Jogorogo.

Hingga Kamis (17/9/2026), kobaran api masih terlihat di kawasan hutan lindung yang sulit dijangkau manusia.

“Pak Kalaksa sudah menyampaikan informasi ke BPBD provinsi dan mengajukan permintaan helikopter untuk water bombing. Itu yang nantinya bisa menjangkau titik api yang sulit diakses,” ujarnya, Kamis.

Pria yang akrab disapa Antok itu menjelaskan petugas bersama masyarakat hingga kini terus membuat sekat bakar atau ilaran untuk membatasi penjalaran api pada hutan produksi. Hal itu dilakukan sambil menunggu bantuan helikopter yang kini masih bertugas memadamkan api di Gunung Buthak, Malang.

Meski api terus meluas, Antok mengaku Pemkab Ngawi masih optimistis sekat ilaran dapat menahan penjalaran api. Langkah tersebut sekaligus untuk mencegah kebakaran berdampak pada lahan pertanian masyarakat.

“Masyarakat sangat antusias. Mereka berupaya agar penjalarannya terkendali dan tidak masuk ke hutan produksi,” jelasnya.

Di sisi lain, dua posko penanganan Karhutla juga telah didirikan di wilayah Desa Ngrayudan dan Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo. Nantinya, posko tersebut menjadi pusat informasi sekaligus tempat pemenuhan kebutuhan logistik bagi petugas dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

“Posko akan tetap beroperasi hingga kebakaran benar-benar dinyatakan padam dan kondisi kawasan telah terkendali,” kata dia.

Leave a Reply