Warga Tegalrejo Salatiga Gelar Dandan Kali, Tradisi Syukuri Sumur Wali

Warga Tegalrejo Salatiga Gelar Dandan Kali, Tradisi Syukuri Sumur Wali
Warga Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, menggelar tradisi Saparan dengan ritual dandan kali atau bersih kali di kawasan Sumur Wali, Sabtu (25/7/2026). (Istimewa)

Kapuasinsight.com, SALATIGA — Warga Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, kembali menggelar tradisi Saparan dengan ritual inti Dandan Kali atau Bersih Kali di kawasan Sumur Wali, Sabtu (25/7/2026).

Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu menjadi bentuk rasa syukur atas keberadaan sumber air yang tak pernah kering sekaligus upaya melestarikan warisan budaya lokal.

Rangkaian Saparan tahun ini diisi beragam kegiatan, mulai dari bersih kubur Makam Sufi, Dandan Kali, senam sehat, lomba mewarnai untuk anak-anak, pertunjukan Reog dan Barongsai, Kirab Kademangan, hingga pagelaran seni Gambyong dan Tayub.

Acara juga dimeriahkan bazar UMKM yang melibatkan pelaku usaha setempat. Selamatan ditandai dengan kirab tumpeng yang diarak menuju Kantor Kelurahan Tegalrejo sebagai simbol rasa syukur masyarakat. 

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Tegalrejo, Pardi, mengatakan ritual Dandan Kali selalu menjadi bagian utama dalam tradisi Saparan karena berkaitan dengan keberadaan Sumur Wali yang telah menjadi sumber kehidupan warga selama puluhan tahun.

“Bersih Kali bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas sumber air yang hingga sekarang masih dimanfaatkan masyarakat. Tradisi ini juga menjadi pengingat agar warga ikut menjaga kelestarian lingkungan dan warisan budaya yang dimiliki Tegalrejo,” ujarnya.

Sejarah Sumur Wali

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kata Pardi, Sumur Wali dibangun pada 1918 dengan konstruksi awal menggunakan bong. Seiring perkembangan zaman, bangunan sumur kemudian dipugar menjadi permanen menggunakan semen dan diberi atap pada masa pemerintahan almarhum Lurah Giat.

Di kawasan tersebut terdapat tujuh sumur yang tersebar di wilayah Ngawen, Randuares, dan Kenteng Gambir. Keberadaan tujuh sumur itu disimbolkan melalui tujuh bungkus sesaji yang dibawa saat ritual sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan leluhur.

Menurut Pardi, ritual Dandan Kali tidak dimaksudkan untuk mengultuskan tempat tertentu. Tradisi tersebut murni menjadi ungkapan syukur atas nikmat sumber air yang hingga kini masih mengalir dan menjadi penopang kehidupan masyarakat.

Pelaksanaan ritual juga mengalami perubahan dibandingkan masa lalu. Dahulu prosesi dilakukan di sepanjang aliran sungai mulai Karang Kepoh hingga jembatan dengan perangkat adat yang lebih lengkap. Kini kegiatan dipusatkan di sekitar Sumur Wali dengan pelaksanaan yang lebih sederhana, meski tetap dipimpin sesepuh adat.

Di tengah masyarakat juga berkembang kepercayaan bahwa air Sumur Wali memiliki khasiat untuk kesehatan. Bahkan, menurut cerita warga, air dari sumur tersebut pernah diambil oleh masyarakat dari Jombor, Kabupaten Semarang, untuk keperluan pengobatan.

Pardi berharap tradisi Saparan dan ritual Dandan Kali tetap dilestarikan oleh generasi muda agar nilai budaya, gotong royong, dan kepedulian terhadap sumber air tidak hilang ditelan zaman.

“Kami berharap anak-anak muda ikut menyengkuyung tradisi ini. Jangan hanya melestarikan acaranya, tetapi juga menjaga sumber air dan nilai kebersamaan yang diwariskan para leluhur sehingga Saparan Tegalrejo tetap hidup dari generasi ke generasi,” kata dia.

Leave a Reply