Kapuasinsight.com, KLATEN – Komunitas pencinta sejarah, Klaten Lampau, kembali mengadakan jelajah sejarah Klaten, Minggu (17/5/2026) sore. Pada jelajah yang memasuki episode ketujuh itu, para peserta diajak menyusuri kawasan titik nol kilometer Klaten.
Titik nol kilometer biasanya menjadi salah satu penanda titik pusat suatu wilayah, termasuk di Klaten. Titik nol berada di Jl Pemuda, Kampung Kanjengan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah.
Meski kondisinya jauh berbeda dengan titik nol kilometer Yogyakarta, titik nol kilometer Klaten memiliki rekam jejak sejarah yang menarik. Lantaran hal itu, Klaten Lampau ingin mengangkat tema tentang titik nol kilometer Klaten serta menyusuri jejak masa lampau yang pernah ada di sekitarnya.
Para peserta berkumpul di kawasan Masjid Raya Klaten. Setelah itu, mereka diajak menyusuri kawasan kuliner Jl Bhali menuju kampung Kamar Bola di Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah. Mereka lantas mendatangi wilayah Kanjengan menuju Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Klaten serta bekas rumah Bupati Klaten tempo dulu.
Peserta kemudian diajak ke titik nol yang tepat berada di jalur lambat Jl Pemuda Klaten. Dari titik nol kilometer, mereka lantas menuju ke Susu Segar Oetomo di dekat simpang lima Klatos. Sebelumnya menjadi kedai susu legendaris, tempat itu pernah menjadi kandang bus Eva pada era 1928.
Sekitar 17 peserta ikut dalam jelajah tersebut. Koordinator Klaten Lampau, Airell Luthfan Ababiel, mengungkapkan jelajah sejarah Klaten kali ini sama seperti sebelumnya. Klaten Lampau ingin mengajak peserta membaca ulang jejak-jejak sejarah di suatu area wilayah.
Titik nol kilometer merupakan penanda yang berfungsi untuk pengukuran jarak dengan wilayah lain, biasanya dikaitkan dengan simbol pemerintahan atau pusat kota. “Berangkat dari sana, Klaten Lampau melakukan riset sejarah apa saja yang ada di sekitar tempat tersebut,” jelas Airell.
Garasi Bus
Mulai dari sejumlah kampung seperti Kamar Bola dan Kanjengan. Penamaan wilayah atau toponim itu berdasarkan keberadaan bangunan sejarah di wilayah tersebut. Di kampung Kamar Bola, ada Societeit de Club yang tercatat dipergunakan sejak 1860 dan utamanya berfungsi sebagai tempat pertemuan.
Lalu di kampung Kanjengan, dalam memori kolektif masyarakat setempat pernah ada bangunan rumah mantri polisi yang pernah eksis sampai era 2000. Saat ini bangunannya sudah tidak ada. Kata Kanjengan berarti gelar yang diberikan dari Keraton untuk jabatan bupati.
“Terakhir tidak jauh dari 0 kilometer, pernah ada perusahaan bus yang melayani trayek antarkota dan intralokal yang bernama Eva, mulai dari tahun 1927 hingga 1942. Sejak saat itu hingga kini telah berubah menjadi usaha susu segar yang masih dalam satu keluarga,” ungkap Airell.
Klaten Lampau merupakan komunitas yang aktif menyusuri jejak sejarah Klaten terutama dari era kolonial. Mereka kemudian membuka ruang untuk belajar bersama melalui kegiatan jelajah sejarah atau walking tour.
Jelajah sejarah itu lantas menarik minat dari berbagai kalangan terutama kalangan muda yang ingin menelusuri Klaten dengan cara berbeda. Melalui kegiatan tersebut, komunitas itu ingin mengajak belajar bersama terkait jejak sejarah yang pernah ada maupun masih bertahan hingga kini.
Para pegiat Klaten Lampau berharap tumbuh kesadaran untuk merawat memori kolektif lingkungan sekitar. “Sebab kami percaya kisah-kisah sejarah lokal dapat untuk menumbuhkan identitas diri kedaerahan,” jelas Aerill.

Leave a Reply