Diunduh Satu Juta Kali, Pengguna Tol Ceritakan Pengalaman Terbantu Travoy

Diunduh Satu Juta Kali, Pengguna Tol Ceritakan Pengalaman Terbantu Travoy
Pengguna memanfaatkan fitur CCTV di aplikasi Travoy untuk mengetahui arus lalu lintas di jalan tol beberapa waktu lalu. (Abdul Jalil/Espos)

Kapuasinsight.com, SOLO – Aplikasi Travoy (Travel With Comfort and Joy) yang dikembangkan PT Jasa Marga (Persero) Tbk terus menunjukkan pengaruh besar dalam membantu kelancaran perjalanan pengguna jalan tol. Sepanjang 2024-2025, aplikasi ini telah diunduh lebih dari satu juta pengguna. Hal ini menandai akselerasi pemanfaatan layanan digital di sektor transportasi nasional. 

Peningkatan pemanfaatan aplikasi Travoy terlihat jelas pada masa angkutan Lebaran 2026. Dalam periode 11-31 Maret saja, Jasa Marga mencatat Travoy telah diakses jutaan kali. Data ini menunjukkan bahwa Travoy semakin menjadi rujukan utama pengguna tol dalam mengambil keputusan perjalanan. 

Selama periode tersebut, fitur CCTV jalan tol real time menjadi fitur yang paling banyak diakses, yakni 3,59 juta kali. Kemudian fitur tarif tol sebanyak 500.000 kali akses, fitur peta 240.000 kali akses, fitur informasi rest area 138.000 kali akses, hingga fitur resi digital sebanyak 103.000 kali akses. 

Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono, mengatakan selama periode tahun 2024-2025, aplikasi Travoy telah mencatat angka pertumbuhan yang signifikan. Meskipun angka pasti berfluktuasi, kata dia, Travoy telah diunduh lebih dari satu juta pengguna. 

Dia menjelasan tingginya penggunaan aplikasi Travoy bukan hanya menjadi sumber informasi saat perjalanan, melainkan menjadi sarana edukasi bagi pengguna jalan untuk merencanakan perjalanan lebih efektif dan efisien. 

Rivan mengatakan Travoy dikembangkan untuk menjawab persoalan klasik yang dialami banyak pengguna di jalan tol, yakni minimnya informasi real time. Melalui ekosistem Jasa Marga Integrated Digital (JID), informasi yang dihimpun dari teknologi artificial intelligence (AI), petugas lapangan, hingga laporan pengguna, kemudian diverifikasi Command Center sebelum disebarkan ke aplikasi dalam hitungan menit. 

“Jadi Travoy ini mengintegrasikan data melalui ekosistem JID dengan tiga pilar input, teknologi AI, yaitu analisis otomatis dari rekaman CCTV dan sensor deteksi di lapangan. Kemudian petugas lapangan, yakni berupa laporan langsung dari personel di titik-titik krusial. Selanjutnya ada Crowdsourcing atau laporan dari pengguna melalui call center, media sosial, dan aplikasi. Data-data ini diverifikasi oleh Command Center dan dikirim melalui mekanisme API ke aplikasi Travoy milik pengguna dalam hitungan menit,” jelas Rivan dalam keterangan tertulis yang diterima Espos, Senin (27/4/2026). 

Melalui model ini, jelas dia, Travoy memiliki Tingkat akurasi tinggi dalam penyajian data CCTV, ketersediaan rest area, hingga perhitungan tarif tol. 

Tingkatkan Efisiensi Lalu Lintas

Lebih lanjut, Rivan menyampaikan Travoy juga berperan sebagai pengendali lalu lintas tidak langsung atau Indirect Traffic Control. Aplikasi ini mendorong distribusi beban kendaraan yang lebih merata karena pengguna dapat mengubah rute sebelum terjebak macet. 

Dia mencontohkan fitur informasi rest area membantu mengurangi antrean masuk, sementara fitur Towing Online mempercepat evakuasi kendaraan mogok, yang kerap menjadi pemicu kemacetan panjang. 

Pengendara sedang mengisi daya kendaraan listrik di fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang ada di Rest Area KM 575 B, Ngawi, beberapa waktu lalu. (Abdul Jalil/Espos)
Pengendara sedang mengisi daya kendaraan listrik di fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang ada di Rest Area KM 575 B, Ngawi, beberapa waktu lalu. (Abdul Jalil/Espos)

“Seperti manajemen Rest Area, fitur ini bisa mengurangi antrean di pintu masuk rest area dengan mengarahkan pengguna ke Lokasi yang masih memiliki ketersediaan parkir,” jelas dia. 

Aplikasi ini juga sangat terasa manfaatnya saat momen arus mudik Lebaran lalu. Travoy menjadi media penting untuk menyampaikan rekayasa lalu lintas seperti one way dan contraflow secara cepat kepada publik. 

Kenyamanan Pengguna Tol

Rivan mengeklaim aplikasi Travoy memberikan kenyamanan terhadap pengguna jalan tol. Hal itu didasarkan pada Survei Kepuasan Pelanggan tahun 2025 yang menunjukkan 84,4% pengguna menilai Travoy bermanfaat dalam membantu pengambilan keputusan perjalanan.

“Survei ini juga menunjukkan pengguna kini lebih menginginkan peningkatan fitur promo dan integrasi pembayaran yang lebih seamless,” ujar Rivan kepada Espos.

Dengan tingginya tingkat kepercayaan publik dan dukungan teknologi yang terus diperkuat, Travoy diproyeksikan menjadi bagian penting dari transformasi layanan jalan tol di Indonesia, sehingga mendorong perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan berbasis data real time. 

Pengguna Tol Merasa Terbantu

Keberadaan aplikasi Travoy sebagai pemandu perjalanan di jalan tol sangat dirasakan manfaatnya oleh pengguna. Salah satunya diakui oleh Witasari. Warga Madiun itu menceritakan pengalamannya bersama keluarga saat Lebaran 2026. 

Dia memanfaatkan Travoy sebagai bagian dari perencanaan perjalanan pulang dan balik ke kampung halaman. 

Ada satu momen yang cukup mendebarkan saat keluarganya menjalani perjalanan balik Lebaran pada Sabtu (28/3/2026). Saat itu jalanan di sepanjang Jogja-Solo cukup padat, keluarganya memutuskan untuk lewat jalan tol dari Gerbang Tol Purwomartani, Kabupaten Sleman, yang memang dibuka secara fungsional untuk memperlancar arus lalu lintas saat momen Lebaran. 

Saat masuk GT Purwomartani, kata dia, baru teringat belum top up saldo kartu tol. Sedangkan biaya tol dari GT Purwomartani sampai GT Madiun estimasi habis berapa belum tahu. 

Tanpa berpikir panjang, ia pun mengecek berbagai fitur yang ada di aplikasi Travoy untuk mencari informasi mengenai bisa tidaknya top up saldo e-Toll. 

“Ternyata bisa top up lewat Travoy. Cukup lega ya, jadi tidak perlu bingung untuk mencari-cari tempat untuk top up,” cerita Witasari kepada Espos, Sabtu (18/4/2026). 

Dia kemudian mencari tahu estimasi biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan ini lewat fitur Tarif Tol di aplikasi tersebut. Ternyata perhitungannya sangat akurat, sehingga pengguna bisa memperkirakan jumlah saldo dengan kebutuhan biaya tol. 

“Jadi kini tak ada ceritanya lagi deg-degan soal saldo e-Toll cukup atau tidak. Karena kita bisa tahu secara pasti kebutuhan biaya pembayaran secara akurat,” ujarnya. 

Menurutnya fitur ini sangat bermanfaat karena kerap kali ada pengguna tol yang ternyata saldonya tidak cukup saat sudah berada di gerbang tol. Kalau sudah kejadian seperti ini tentu akan membuat pengguna lain harus antre panjang. 

“Beberapa kali kami mengalami kejadian sudah di depan gerbang tol harus menunggu lama, karena ternyata ada pengendara lain yang ternyata saldonya tidak cukup. Jadinya harus keluar untuk top up saldo. Tentu ini sangat tidak nyaman bagi pengguna yang lain, karena harus menunggu cukup lama,” ceritanya. 

Manfaat Travoy juga dirasakan Abdul Malik, warga Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Malik bercerita pada suatu perjalanan pulang ke Semarang, ia bersama rombongan sedang mencari rest area dengan fasilitas yang lengkap di ruas tol Batang-Semarang. 

Taman lalu lintas menjadi salah satu fasilitas yang ada di Rest Area Travoy KM 379A Tol Semarang-Batang. Foto diambil beberapa waktu lalu. (Abdul Jalil/Espos)
Taman lalu lintas menjadi salah satu fasilitas yang ada di Rest Area Travoy KM 379A Tol Semarang-Batang. Foto diambil beberapa waktu lalu. (Abdul Jalil/Espos)

Tak mau ambil pusing, ia pun segera mengeluarkan ponselnya yang telah terinstal aplikasi Travoy. Sejurus kemudian ia membuka aplikasi tersebut dan mencari rest area dengan fasilitas yang lengkap. 

Setelah mencari-cari akhirnya ketemu Rest Area Travoy KM 379A Tol Semarang-Batang yang memiliki fasilitas lengkap dan nyaman. Selain itu, di aplikasi juga terpampang ketersediaan ruang parkir kendaraan. Sehingga, saat tiba di rest area tersebut tidak perlu takut lagi tidak kebagian lahan parkir. 

“Jadi tadi ada yang ingin salat, ke toilet, ada yang ingin beli makanan. Makanya nyari rest area yang menyediakan kebutuhan itu. Pas ngecek di Travoy ternyata ada itu daftar fasilitas umum hingga kios-kios penjual makanan. Jadi benar-benar aplikasi ini memandu kita saat di perjalanan,” jelas dia saat berbincang dengan Espos, Sabtu (11/4/2026). 

Lewat fitur CCTV di Travoy, Malik mengatakan layanan tersebut sangat membantu pengguna tol supaya bisa mengupdate informasi arus lalu lintas. Dengan mengetahui kondisi jalan tol secara real time, tentu berdampak pada ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan dalam berkendara. 

Perkuat Transformasi Layanan

Apa yang dirasakan Witasari dan Malik ini menjadi bagian tujuan dari pengembangan aplikasi Travoy untuk memberikan navigasi bagi setiap pengguna jalan tol. 

Aplikasi Travoy saat ini telah dilakukan pembaruan untuk versi Android 4.9.2 dan iOS pada Februari 2026, sehingga layanan digital yang diberikan semakin beragam. Pengguna Travoy juga bisa mengetahui secara langsung lewat ponsel masing-masing kondisi lalu lintas di ruas tol. Apalagi saat ini sudah terpasang 3.500 kamera CCTV di selurus ruas jalan tol. 

Meski demikian, pengembangan Travoy bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesar justru terletak pada integrasi data antar-entitas di lingkungan Jasa Marga, terutama subholding seperti PT Jasamarga Tranjawa Tol (JTT) yang mengelola ruas-ruas krusial pada jaringan Trans Jawa. 

“Interoperabilitas sistem menjadi pekerjaan besar agar seluruh data dari lapangan dapat terbaca dengan format yang seragam di dashboard pusat,” jelas Rivan. 

Lebih lanjut, Rivan menyampaikan tingginya penggunaan fitur-fitur tersebut membuktikan Travoy tidak hanya menjadi sumber informasi saat perjalanan, melainkan sebagai sarana edukasi bagi pengguna jalan untuk merencanakan perjalanan lebih efektif fan efisien. 

“Jasa Marga akan terus mengembangkan fitur-fitur pada aplikasi Travoy agar semakin adaptif menjawab kebutuhan pengguna jalan serta memberikan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan dan menyenangkan,” jelas Rivan. 

Leave a Reply