Kapuasinsight.com, GAZA — Krisis air di Jalur Gaza semakin memburuk seiring rusaknya infrastruktur vital dan terbatasnya akses terhadap air bersih. Kondisi ini diperparah oleh konflik yang masih berlangsung, sehingga pasokan air bagi warga jauh di bawah standar minimum yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pada pertengahan April 2026, tiga pekerja penyedia air—seorang insinyur dan dua pengemudi truk—tewas akibat serangan Israel di Gaza Utara saat menjalankan tugas mendistribusikan air bersih kepada keluarga pengungsi. Insiden tersebut menambah panjang daftar korban dari sektor layanan air yang terdampak konflik.
Wakil Direktur perusahaan air minum di Gaza, Omar Shatat, mengungkapkan sejak awal perang, pihaknya telah kehilangan sekitar 19 pekerja yang terlibat dalam operasional dan distribusi air.
“Penargetan telah menjadi bagian dari realitas operasional,” ujarnya.
Menurut laporan UNICEF, lebih dari 85% fasilitas air dan sanitasi di Gaza saat ini tidak berfungsi optimal, baik karena kerusakan total maupun sebagian. Kerusakan tersebut mencakup jaringan pipa, instalasi pengolahan air limbah, hingga fasilitas desalinasi yang sebelumnya menjadi sumber utama air bersih.
Akibatnya, akses masyarakat terhadap air bersih menurun drastis. Standar minimum kebutuhan air menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa berkisar antara 50 hingga 100 liter per orang per hari. Namun, di Gaza, rata-rata pasokan air minum hanya sekitar 7 liter per orang per hari, sementara kebutuhan rumah tangga sekitar 16 liter.
Bahkan, masih banyak warga yang tidak memiliki akses terhadap minimal 6 liter air minum bersih setiap harinya.
Penurunan ini juga dipengaruhi terganggunya produksi air. UNICEF melaporkan kapasitas produksi di sejumlah wilayah sempat turun hingga 80% akibat kerusakan fasilitas desalinasi serta terbatasnya pasokan listrik. Kondisi tersebut menyebabkan ratusan ribu warga kehilangan sumber air utama mereka.
Laporan dari OCHA menyebutkan kerusakan jaringan listrik yang menyuplai instalasi air di Gaza selatan turut menurunkan kapasitas produksi secara signifikan, berdampak pada sekitar 500.000 orang.
Keterbatasan air bersih juga memicu krisis kesehatan. Manajer kemanusiaan darurat Médecins Sans Frontières, Laureline Lassere, menyatakan bahwa minimnya akses terhadap air bersih dan sanitasi dasar menyebabkan meningkatnya kasus penyakit.
“Tidak ada air bersih, tidak ada sabun, dan kondisi tempat tinggal yang padat menjadi akar dari sebagian besar kasus penyakit yang kami tangani setiap hari,” katanya.
UNICEF juga mencatat peningkatan penyakit berbasis air, seperti diare akut dan hepatitis A, terutama di kalangan anak-anak yang tinggal di kamp pengungsian dengan sanitasi buruk.
Di tengah situasi tersebut, upaya bantuan kemanusiaan terus dilakukan. UNICEF telah mendistribusikan air bersih kepada lebih dari 1,6 juta orang melalui pengiriman truk air dan penyediaan tangki air darurat. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat di tengah krisis yang kian kompleks.

Leave a Reply